```Untukmu anakku,"Tahukah kamu nak?" Perjalan terjauh dan terberat bg seorang lelaki adalah perjalanan ke masjid.```
```Sebab bnyk orang kaya tdk sanggub mengerjakannya.```
```Jgnkan sehari lima waktu, bahkan bnyk pula yg seminggu sekalipun terlupa.```
```Tidak jarang pula seumur hidup tdk pernah singgah kesana.```
*Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid*
```Karena orang pintar dan pandaipun sering tdk mampu menemukannya, walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitas eropa ataupun amerika.```
```Mudah melangkahkan kaki ke Mall, Diskotiq, Bar, Tempat rekreasi, dg semangat yg membara, kantong tebal namun ke masjid tetap sj perjalan yg tdk mampu mereka tempuh walaupun tanpa biaya.```
*Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid.*
```Para pemuda yg kuat dan bertubuh sehat yg mampu menaklukkan puncak gunung bromo, merapi, jg para serdadu yg mampu mengatasi rintangan berat, mampu menaklukkan musuh pun``` _*sering mengeluh kalau di ajak ke masjid.*_
```Alasan mereka beragam, ada yg berkata, "sebentar lagi, ah! waktu masih panjang, msh ngantuk, ah!tdk nyaman di cap orang alim, dan berbagai macam alasan lainya.```
*Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalan ke masjid*
```Maka berbahagialah dirimu wahai anakku```
```Bila sejak kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki ke masjid.
Karena bagi kami sejauh manapun engkau melangkahkan kaki tdk ada perjalanan yg paling kami banggakan selain``` _*perjalanan ke masjid*_
```Biar aku beri tahu rahasia kepadamu.```
```Sejatinya``` _*Perjalanan ke masjid adalah perjalanan untuk menjumpài Rabbmu.*_
```Itulah perjalanan yg di ajarkan oleh Nabimu serta perjalanan yg akan membedakanmu dg orang-orang yg lupa akan Rabbmu.```
*Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid*
_*Maka lakukanlah walau engkau harus merangkak dalam gelap subuh demi mengenal Rabbmu.*_
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
*Ayah dan ibumu yang mencintaimu*
🎀🎀
Selasa, 14 Maret 2017
PERJALANAN TERJAUH DAN TERBERAT
Sabtu, 12 November 2016
Wahai Pemuda, Bangkitlah!
BERBICARA pemuda, kita berbicara pemimpin masa depan suatu bangsa. Jika konteks nya pemuda Indonesia, maka kita sedang membicarakan kepemimpinan masa depan bangsa Indonesia. Itulah yang dikatakan Ulama pembaharu asal Mesir imam Asy-syahid Hasan al-Bana “syabab al yaum rijalul ghod” “Pemuda hari ini, adalah pemimpin masa depan”.
Karena itu melalui pemudalah bangsa ini mampu lahir, bangkit, berdiri dan berjalan menjadi bangsa yang berdaulat dengan berbagai dinamikanya. Sejarahpun telah menorehkan tintanya, bahwa dalam setiap momen penting bangsa ini, senantiasa melibatkan pemuda sebagai lokomotif penggeraknya, aktor intelekualnya dan rahasia kekuatanya. Oleh sebab itu pembahasan tentang bab Pemuda sangat strategis dan penting kita dalami bersama.
Seorang ulama kontemporer Hasan al-Bana menggambarkan sosok pemuda, “Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang dijalan-Nya, semakin bersemangat merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Dan keempat rukun ini, yakni iman, ikhlash, semangat dan amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda! Karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda”
Peran pemuda yang strategis dan penting ini sampai di gambarkan oleh sahabat Rasulullah SAW yaitu Umar bin Khattab RA, dalam keterangan Hadist dijelaskan bahwa Umar pernah mengatakan “Jika aku sedang mengalami kesulitan, maka yang aku cari adalah pemuda”. Pemuda mampu menjadi inspirasi dan solusi bagi Umar bin Khattab RA. Oleh sebab itu, dari dulu hingga sekarang, pemuda merupakan pilar kebangkitan.
Dalam setiap kebangkitan pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap pemikiran, pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Dengan ini pula, penyanyi kondang Indonesia Rhoma Irama pernah berkata, bahwa “masa muda adalah masa yang ber-api-api”. Karena memang semangat dan idealisme seorang pemuda telah membakar motivasi dirinya untuk senantiasa berkontribusi untuk agama, bangsa dan negara ini lebih baik lagi. Belum lagi ketika kita mengingat perkataan Tan malaka tentang pemuda. Beliau mengatakan bahwa “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”.
Dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat yang menjelaskan tentang pemuda. Diantaranya surah al-Kahfi ayat 13 Allah SWT sangat mengistimewakan pemuda dengan bab khusus
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk,” (QS. Al-Kahfi 13).
Prof.Dr.HAMKA (1984, hal. 171) menafsirkan dalam Tafsir Al-Azhar maksud ayat Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka bahwa disini jelaskan penghuni gua dalam kisah ashabul kahfi adalah anak-anak muda, tidak ada bercampur dengan orang tua.
Maka kalau hal ini diperbandingkan kepada perjuangan Nabi SAW, di Makkah itu kelihatan suatu pengalaman yang patut jadi pedoman. Yaitu yang telah dibawa Rasulullah SAW pun anak-anak muda, sedang orang tua telah tegak menjadi penghalang dan perintang, karena mereka telah tenggelam dengan kebatilan selama ini. Kalau kita perhatikan seksama tafsir Buya Hamka di atas, kita akan menyaksikan bahwa anak muda menjadi prioritas utama Rasulullah SAW dalam berdakwah dan menyebarkan Islam.
Firman Allah SWT di atas juga mengisyaratkan bahwa pemuda al kahfi adalah termasuk para pemuda pemberani untuk mempertahankan keimanan mereka, pemikiran mereka dan kepribadian mereka. Mereka adalah orang-orang yang teguh imannya, sehingga mereka berani melanggar aturan pemerintah yang melarang mereka meyakini agama tauhid. Jadi keberanian menjadi modal penting bagi seorang pemuda.
Dalam akhir tulisan ini, rasanya kita harus merenungkan perkataan dari imam Hasan Al-Banna, “Wahai pemuda perbaruhilah iman, kemudian tentukan sasaran dan tujuan langkah kalian. Sesungguhnya kekuatan pertama adalah iman, buah dari iman adalah kesatuan, dan konsekuensi logis dari kesatuan adalah kemenangan yang gemilang. Oleh karenanya berimanlah kalian, eratkanlah ukhuwah, sadarilah, dan kemudian tunggulah datangnya kemenangan.”
Sumber: islampos.com
Minggu, 30 Oktober 2016
PEMUDA DAN KEBANGKITAN UMAT
Oleh Abu Furqon
Peringatan hari sumpah pemuda yang diselenggarakan setiap tanggal 28 Oktober merupakan sebuah upaya untuk mengenang sebuah peristiwa besar. Sebuah peristiwa yang menjadi salah satu tonggak sejarah bangsa ini. Dalam setiap perjuangan bangsa, maka pemuda mempunyai peranan yang dominan dalam menentukan nasib bangsanya. Dalam lintasan sejarah perjuangan umat, kita dapat menyaksikan rentetan sejarah perjuangan para pemuda dalam perjuangan bangsanya.
Al quran memberikan contoh perjuangan sekelompok pemuda yang berani untuk keluar dari kungkungan kejahiliyahan yang mendominasi masyarkatnya saat itu. Dalam surat Al Kahfi, Allah menjelaskan,
أَمۡ حَسِبۡتَ أَنَّ أَصۡحَٰبَ ٱلۡكَهۡفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُواْ مِنۡ ءَايَٰتِنَا عَجَبًا ٩ إِذۡ أَوَى ٱلۡفِتۡيَةُ إِلَى ٱلۡكَهۡفِ فَقَالُواْ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا ١٠ فَضَرَبۡنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمۡ فِي ٱلۡكَهۡفِ سِنِينَ عَدَدٗا ١١ ثُمَّ بَعَثۡنَٰهُمۡ لِنَعۡلَمَ أَيُّ ٱلۡحِزۡبَيۡنِ أَحۡصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓاْ أَمَدٗا ١٢
Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan. (Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu] yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu)
Demikian pula kisah Daud. Dengan keberanianya ia mampu mengalahkan Jalut, seorang raja yang kuat dan bertubuh besar. Allah berfirman dalam Al Baqarah ayat 251:
فَهَزَمُوهُم بِإِذۡنِ ٱللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُۥدُ جَالُوتَ وَءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلۡمُلۡكَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَعَلَّمَهُۥ مِمَّا يَشَآءُۗ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢٥١
Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam
Peran pemuda dalam Kebangkitan Umat:
Pemuda mengangkap permasalahan bangsa dan Umat:
إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ ٥٢
52. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?
Pemuda adalah generasi penerus dan pengganti (at thur: 21)
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۢ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ٢١
21. Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya
Allah berfirman dalam al maidah: 54
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ ٥٤
54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui
Yang dibutuhkan Oleh Pemuda:
Kebutuhan pemuda saat ini tak sekedar kebutuhan fisik dan materi semata, tetapi pemuda saat ini sangat membutuhkan pembinaan dan tarbiyah Islamiyah yang syumul.
Menanamkan Jiwa kepemimpinan dalam diri jiwa pemuda
Allah berfirman:
قَالَ ٱجۡعَلۡنِي عَلَىٰ خَزَآئِنِ ٱلۡأَرۡضِۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٞ ٥٥
55. Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan"
قَالَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا يَٰٓأَبَتِ ٱسۡتَٔۡجِرۡهُۖ إِنَّ خَيۡرَ مَنِ ٱسۡتَٔۡجَرۡتَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡأَمِينُ ٢٦
26. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya"
لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨
128. Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةٗ فَٱثۡبُتُواْ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٤٥ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٤٦ وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِم بَطَرٗا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ٤٧
45. Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya´ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan
Dari berbagai ayat tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwa karakter yang harus disematkan pada diri pemuda saat ini adalah:
1. Karakter nabi Yusuf yaitu khafidzun Aliim (Pandai Menjaga lagi mengetahui) atau amanah dan berwawasan.
2. Karakter Nabi Musa yaitu Qowiyun alim, kuat dan berpengetahuan
3. Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin
4. Jiwa pemersatu
5. Karakter yang berorientasi kerja bukan pada hanya pencitraan saja.
Jumat, 16 September 2016
Keteguhan Dua Remaja Mualaf
Beberapa hari lalu kedua orang tuanya di panggil sama gereja karena menyekolahkan anak anaknya di MTs Oe Ue dan bersyahadat pada saat MOS. sedangkan orang tua mereka masih Kristen.
Gereja menekan kedua orang tua mereka di gereja karena membiarkan anaknya masuk Islam. Kedua orang tua mereka menjawab dg jawaban yang mengagetkan sang pendeta dg perkataan yang intinya "Silahkan kalian tekan tekan saya dan mau hapus saya dari jamaah gereja, saya akan susul anak saya masuk Islam".
Semoga Allah segera berikan hidayah kepada kedua orang tua mereka. Saat ini mereka kelas 1 di MTs Oe Ue yang kita bantu pembuatan kamar mandi.
Semoga bantuan yang diamanahkan lewat kami Allah balas dg keberkahan dunia Akhirat.
Jazakumullah ahsanal jaza
Hormat kami,
Sarjono
Sabtu, 20 Agustus 2016
Sumur Usman dan Visi Jangka Panjang
ANTUM PERHATIKAN, ,
DULU, di Madinah, tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Sumur itu dikenal dengan nama :Sumur Ruma (The Well of Ruma) karena dimiliki seorang Yahudi bernama Ruma.
Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu waktu tertentu sang Yahudi menaikkan seenaknya harga airnya, dan rakyat Medinahpun terpaksa harus tetap membelinya. karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.
Melihat kenyataan ini, Rasulullah berkata, "kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah Surga". Seorang sahabat nabi bernama Usman bin Affan mendekati sang Yahudi. Usman menawarkan untuk membeli sumurnya. Tentu saja Ruma sang Yahudi menolak. Ini adalah bisnisnya, dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya.
Tetapi Usman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma, "aku akan membeli setengah dari sumur mu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya" Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta Dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan.
Apa yang terjadi setelahnya membuat sang Yahudi merasa keki. Ternyata Usman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Pendudukpun mengambil air sepuas puasnya sehingga hari kesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi. Merasa kalah, sang Yahudi akhirnya menyerah, ia meminta sang Usman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja Usman harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya.
Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman. Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini. Kurmanya dieksport ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan. Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di saat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun)
Sang Yahudi tidak akan penah menang. Kenapa?
Karena visinya terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia ada di dunia. Sedangkan visi dari Usman Bin Affan adalah jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan.
Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati.
Masya' Allah
Selasa, 16 Agustus 2016
Hindari Ribut
Adalah *Imam Ahmad* rahimahullah meriwayatkan hadits tentang shalat sunnah _qabliyah_ Maghrib dan menyatakan keshahihannya. Tetapi sungguh aneh, belum pernah para muridnya menyaksikan beliau mengamalkan ibadah tersebut.
_"Mengapa?"_, tanya mereka.
_"Sebab penduduk Baghdad telanjur mengambil pendapat Imam Abu Hanifah"_, ujar beliau, _"Yang menyatakan tiadanya shalat qabliyah Maghrib. Kalau aku mengamalkan hal yang berbeda, niscaya akan menimbulkan keributan di antara mereka."_
Meninggalkan suatu _sunnah_ yang diyakini keutamaannya demi terjaganya harmoni masyarakat ternyata adalah 'amal utama.
_"Karena itu para Aimmah seperti Imam Ahmad atau yang lainnya"_, demikian ditulis *Syaikhul Islam Ibn Taimiyah*, _"Menganggap sunnah, apabila seorang imam meninggalkan hal-hal yang menurutnya lebih utama, jika hal itu dapat menyatukan makmum."_
Inilah mengapa ketika *Buya Hamka* menyilakan *KH Abdullah Syafi'i* berkhuthbah di Masjid Agung Al Azhar, adzan beliau minta dikumandangkan dua kali. Ini pula mengapa, *KH Idham Cholid* tidak berqunut ketika tahu ada *Buya Hamka* menjadi makmumnya dalam kapal yang mengangkut mereka berhaji, sementara *Buya Hamka* justru berqunut karena tahu *KH Idham Cholid* ada di belakangnya.
_"Demikian juga orang-orang yang menganggap melirihkan suara ketika membaca basmalah (dalam shalat berjamaah) adalah lebih utama atau sebaliknya"_, sambung Ibn Taimiyah, _"Sedangkan makmum berbeda dengan pendapat atau madzhabnya, maka dia boleh mengerjakan yang kurang afdhal demi menjaga kemashlahatan persatuan. Hal ini lebih kuat dibandingkan permasalahan mana yang afdhal dari kedua perkara tersebut, dan ini adalah baik."_
*Jalan sunnah adalah jalan tak suka ribut tentang _khilafiyah furu'iyyah_. Jalan sunnah adalah jalan yang meminta kita tak perlu tampil mencolok dan terlihat berbeda*.
Adalah *Imam Ahmad ibn Hanbal* menekankan hal ini sampai soal berpakaian. Beliau menegur seorang yang ditemuinya di Baghdad dalam keadaan memakai pakaian penduduk Makkah.
_"Tidak cukupkah bagimu pakaian yang biasa dikenakan orang 'Iraq?"_
_"Bukankah ini pakaian yang baik, pakaian dari tempat bermulanya Islam?"_
_"Ya"_, jawab beliau, _"Akan tetapi aku khawatir pakaian itu menghinggapkan *rasa sombong* dan aku khawatir ia adalah *pakaian kebanggaan* (libasusy syuhrah) yang dilarang oleh Rasulullah, karena dikenakan agar pemakainya tampak menonjol di tengah khalayak."_
*[Ust. Salim A. Fillah]*
Kamis, 21 Juli 2016
🌽Bertani, salah satu kenikmatan di Surga🌽
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari berbincang dengan para sahabat sedang di sisi beliau ada seorang badui.
Beliau berkata: “Bahwasanya ada seorang penghuni surga yang meminta izin kepada Rabb-nya untuk bercocok tanam.
Maka Allah berkata kepadanya: “Bukankah kamu telah memperoleh apa yang kamu kehendaki?”
Dia menjawab: “Betul, tapi aku suka bercocok tanam.”
Rasulullah kemudian bercerita :”kemudian orang tersebut menaburkan benih, dalam sekejap mata dihadapannya benih itu telah menjadi tanaman yang matang dan siap dipanen. Hasil tanaman tersebut terkumpul menggunung”.
Lalu Allah berkata: “Ambilah wahai anak Adam, sesungghnya tidak ada yang bisa membuatmu kenyang!”
Orang Badui berkomentar: “Demi Allah, aku tidak mendaati petani tersebut kecuali Orang Quraisy atau Orang Anshar karena mereka orang-orang yang suka bercocok tanam.”
Mendengar perkataan orang badui tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa. Hadits riwayat Bukhari.
Lihatlah di surga saja petani atau orang yang suka berkebun saja ingin menanam tanaman.
Selasa, 31 Mei 2016
Dragon In Jail
@ Majelis I‘tibar
Sebagaimana dunia, yang dihuni oleh orang baik dan orang jahat. Demikian pula dengan penjara, yang dihuni oleh pelaku kriminal, lawan politik, hingga orang tak bersalah yang bernasib sial atau dikorbankan. Karena itu, ada orang yang keluar penjara dan menyandang status sebagai sampah masyarakat, adapula yang disambut hangat seperti pahlawan.
Bagi sebagian kalangan, penjara adalah tempat yang menakutkan. Dimana seseorang akan menerima siksaan fisik dan tekanan mental. Mereka akan diisolasi dari dunia luar, dibatasi pergerakannya dan dilumpuhkan pikirannya. Penjara memang memang menjadi tempat pesakitan bagi para pelaku kriminal, namun bisa juga menjadi sarana peneguhan jatidiri bagi orang - orang besar. Apa fungsi penjara bagi para pejuang berjiwa satria?
Pertama, Tempat Berdakwah
Hal ini terjadi pada Nabi Yusuf As. Beliau adalah seorang nabi yang digambarkan oleh rasulullah sebagai “Al Karim bin Karim bin Karim bin Karim”. Maksudnya, orang yang mulia (Nabi Yusuf) anak dari orang yang mulia (Nabi Ya‘qub), anak dari orang mulia (Nabi Ishaq), anak dari orang mulia (Nabi Ibrahim). Luar biasa, nasab kenabian tersambung berurutan hingga derajat keempat (cicit).
Nabi Yusuf As disebut sebagai orang yang mulia oleh rasulullah. Demi menjaga kemuliaannya, beliau berkata “Rabbis sijnu ahabbu ilayya mimmaa yad’uu nanii ilaihi”. Ucapan khas para pejuang yang menggambarkan idealisme yang tidak bisa dibeli. Sebagaimana halnya Imam Ahmad bin Hambal yang lebih memilih disiksa dan dipenjara ketimbang mendukung paham Muktazilah yang menyatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk, bukan Kalamullah.
Saat berada didalam penjara, beliau berdakwah kepada sesama tahanan. Mengajak mereka ke jalan tauhid dan merenungi hakikat kehidupan. Berdakwah memang tugas mulia para nabi dan pengikutnya, dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja. Baik didalam istana sebagaimana Nabi Sulaiman, di dalam mihrab sebagaimana Nabi Zakaria atau bahkan didalam penjara sebagaimana Nabi Yusuf.
Kedua, Tempat Ber-uzlah
Ber-uzlah (mengasingkan diri dari dunia) pada hakekatnya diharamkan, kecuali dalam kondisi takut terkena fitnah maupun dipaksa oleh penguasa. Dalam hal dipaksa oleh penguasa, ber-uzlah dilakukan dengan mengasingkan ke satu daerah tertentu atau mengurungnya dalam penjara. Apa yang dilakukan oleh orang shaleh saat ber-uzlah? Mereka mengisi hari - harinya dengan beribadah kepada Allah.
Diantara ucapan yang sangat terkenal dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah “Apa yang bisa dilakukan oleh musuh kepadaku? Jika mereka mengusirku, berarti aku akan rihlah. Jika mereka memenjarakanku, berarti aku akan ber-uzlah, jika mereka membunuhku, berarti aku akan syahid”. Ini adalah ungkapan yang menunjukkan beliau dalam posisi bebas tekanan dan merasa “Nothing to loose”, apapun kondisinya.
Seseorang yang ber-uzlah, maka ibadahnya akan meningkat. Mereka bisa tilawah Al Qur’an dengan tenang, tanpa gangguan aktivitas sebagaimana para santri di pondok tahfizh. Mereka bisa berpuasa dengan nyaman, mereka bisa qiyamullail sepuasnya dll. Maka tidak heran jika dalam penjara, ada orang - orang yang bisa menjadi Hafizh Qur’an.
Ketiga, Tempat Berkarya
Banyak karya monumental yang lahir dari penjara. Dari memoar hingga tafsir Al Qur’an. Karena lahirnya dimedan juang, maka suasana kejiwaan sebagai pejuang mengalir kental dalam setiap goresan pena yang ditorehkannya. Dan secara mudah, hal ini akan ditransmisikan kepada siapa saja yang membaca hasil karyanya.
Ada Sayyid Quthb yang mengarang tafsir Fii Dzilalil Qur’an. Sebuah kitab tafsir yang berjiwa haraki tapi dibungkus dengan untaian sastra yang tinggi. Apresiasi para ulama dalam kitab - kitab Ulumul Qur’an disampaikan jelas, khususnya saat membahas bab At Tafsir wal Mufassiruun. Meski banyak pula yang mencibirnya karena menganggapnya berpaham khawarij / beraliran keras dan radikal.
Ada Buya Hamka yang mengarang kitab Al Azhar. Sebuah kitab tafsir yang diterima dan dikaji secara luas di Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam dan beberapa negara lainnya. Buya Hamka memiliki banyak kesamaan seperti Sayid Qutb yakni sebagai sastrawan, sejarahwan maupun pejuang. Wajar jika kitabnya mendapatkan apresiasi tinggi karena tingginya kandungan pembahasan di dalamnya.
Keempat, Madrasah Pendidikan
Orang -orang mulia memiliki daya magnet yang tinggi. Mereka bisa menarik orang lain untuk mendekat kepadanya sekaligus mampu menularkan sifat magnetnya kepada orang lain. Hal seperti ini terjadi dimana saja, baik di Istana maupun penjara. Dahulu, para ulama sangat benci dengan istana dan bertemu dengan penguasa. Namun setelah Umar bin Abdul Azis menjadi khalifah, maka banyak ulama yang bertandang ke istana. Baik untuk memberi nasihat dan wasiat, memberi masukan tentang urusan kenegaraan, hingga bermajelis (mudzakarah) dengannya.
Tidak lama setelah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dijebloskan ke penjara, segeralah menyusul santri utamanya, yakni Ibnul Qayyim Al Jauziyah. Selain untuk membantu mengurus keperluannya, juga untuk terus menyerap ilmu dari syaikhnya itu. Banyak juga para ulama dan pejabat yang berkunjung ke penjara untuk bermajelis maupun meminta fatwa dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Salah satu fungsi penjara adalah melakukan terapi dan rehabilitasi mental kepada para tahanan. Agar mereka bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat dan siap terlahir kembali menjadi orang baru. Memang ada juga tokoh agama yang ditugaskan untuk melakukan pendampingan dan pembinaan spiritual. Namun hadirnya ulama yang berstatus sebagai tahanan seringkali efeknya lebih kuat bagi penghuni lapas, karena interaksi yang lebih intens dan solidaritas sebagai sesama tahanan.
Kelima, Benteng Perlindungan
Kita sulit memungkiri ada banyak kekejaman dan proses dehumanisasi didalam penjara sebagaimana yang terjadi di Kamp Guantanamo dan Abu Ghraib. Tak jarang, penyiksaan yang berlebihan berujung pada cacat permanen dan berujung kematian. Namun dalam beberapa kasus, penjara juga bisa menjadi tempat berlindung yang aman bagi para tahanan. Mereka lebih aman berada didalam penjara ketimbang diluar penjara.
Jelang pemberontakan PKI tahun 1965 di Indonesia, mereka melakukan banyak pembunuhan massal kepada para ulama, kyai dan satri yang tidak sejalan dengan paham komunis. Dilain sisi, Presiden Soekarno juga banyak menjebloskan lawan - lawan politiknya yang tidak sepakat dengan ide Nasakom dengan menganggapnya sebagai pihak yang anti revolusioner dan berpotensi melakukan tindakan subversif.
Akhirnya, banyak tokoh - tokoh besar dari aktivis Masyumi yang masuk penjara. Seperti halnya Buya Hamka, M Natsir dll. Mereka berstatus sebagai tahanan politik, bukan penjahat kriminal. Mereka keluar dari penjara saat Soeharto naik menjadi presiden. Diantara hikmah tersembunyi adalah, mereka selamat dari gonjang ganjing berdarah tahun 1965. Dengan sikapnya yang sangat keras menentang paham komunisme, sangat mungkin mereka diincar sebagai target operasi untuk dieksekusi oleh PKI sebagaimana lazim terjadi diberbagai daerah. Namun karena posisinya ada di penjara yang dijaga ketat oleh militer, maka mereka aman.
Khatimah
Ada hadits yang sangat terkenal dan sering disampaikan oleh para mubaligh “Ad dun-ya sijnul mu’min, wa jannatul kaafir”. Selain dipahami secara literal, kita juga paham bahwa dunia dan penjara memiliki beberapa kesamaan, yakni sama - sama sebagai tempat berkiprah, berkarya dan berprestasi. Mari kita menjadi orang berjiwa merdeka meskipun fisiknya dipenjara. Jangan sebaliknya, jiwanya terpenjara meskipun fisiknya bebas merdeka. Wallahu a’lam.
Kamis, 10 Maret 2016
Sodom - Gomorahnya Indonesia
Ada sekelumit kisah nyata yang pernah terjadi pada sebagian bangsa ini yang mungkin kita telah lupa. Dan sayangnya, peristiwa yang penuh dengan pelajaran ini sama sekali tidak disinggung-singgung sedikit pun di dalam buku pelajaran di sekolah. Kita dan anak-anak kita tidak pernah tahu jika ada suatu desa yang penduduknya nyaris sama dengan kaum Sodom-Gomorah, senang bermaksiat, yang oleh Allah swt dikubur seluruhnya dalam satu malam hingga tidak bersisa. Satu desa bersama seluruh penduduknya lenyap dalam satu malam tertutup puncak sebuah gunung yang berada agak jauh dari lokasi desa itu. Siapa yang mampu memindahkan puncak gunung itu ke suatu tempat untuk mengubur satu desa kecuali Allah Yang Maha Kuasa?
Inilah kisah tentang Dukuh Legetang, yang masuk dalam wilayah Banjarnegara, Jawa Tengah. Kejadiannya di tahun 1955.
Dukuh Legetang adalah sebuah dukuh makmur yang lokasinya tidak jauh dari dataran tinggi Dieng-Banjarnegara, sekira 2 kilometer di sebelah utaranya. Penduduknya cukup makmur dan kebanyakan para petani yang cukup sukses. Mereka bertani sayuran, kentang, wortel, kobis, dan sebagainya.
Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah dan sayur yang dihasilkan juga lebih baik dari yang lain.
Namun bukannya mereka bersyukur, dengan segala kenikmatan ini mereka malah banyak melakukan kemaksiatan. Barangkali ini yang dinamakan “istidraj” atau disesatkan Allah dengan cara diberi rezeki yang banyak namun orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan.
Masyarakat Dukuh Legetang umumnya ahli maksiat. Perjudian di dukuh ini merajalela, begitu pula minum-minuman keras. Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger, sebuah kesenian tradisional yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan. Ada juga anak yang malah melakukan kemaksiatan bersama ibunya sendiri. Beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh ini.
Pada suatu malam, 17 April 1955, turun hujan yang amat lebat di dukuh itu. Tapi masyarakat Dukuh Legetang masih saja tenggelam dalam kemaksiatan. Barulah pada tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara keras seperti sebuah bom besar dijatuhkan di sana, atau seperti suara benda yang teramat berat jatuh. Suara itu terdengar sampai ke desa-desa tetangganya. Namun malam itu tidak ada satu pun yang berani keluar karena selain suasana teramat gelap, jalanan pun sangat licin.
Pada pagi harinya, masyarakat yang ada di sekitar Dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu barulah keluar rumah dan ingin memeriksa bunyi apakah itu yang terdengar amat memekakkan telingan tadi malam. Mereka sangat kaget ketika di kejauhan terlihat puncak Gunung Pengamun-amun sudah terbelah, rompal. Dan mereka lebih kaget bukan kepalang ketika melihat Dukuh Legetang sudah tertimbun tanah dari irisan puncak gunung tersebut. Bukan saja tertimbun tapi sudah berubah menjadi sebuah bukit, dengan mengubur seluruh dukuh beserta warganya. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah, kini sudah menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan Dieng…
Masyarakat sekitar terheran-heran. Seandainya Gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu pasti hanya akan menimpa lokasi di bawahnya. Akan tetapi kejadian ini jelas bukan longsornya gunung. Antara Dukuh Legetang dan Gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Namun sungai dan jurang itu sama sekali tidak terkena longsoran. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu malam tadi terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang.
Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah Yang Maha Kuasa?
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).
Untuk memperingati kejadian itu, pemerintah setempat mendirikan sebuah tugu yang hari ini masih bisa dilihat siapa pun. Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:
“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG
SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA
SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN
PADA TG. 16/17-4-1955″
Sungguh kisah tenggelamnya dukuh Legetang ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa azab Allah swt yang seketika itu tak hanya terjadi di masa lampau, di masa para nabi, tetapi azab itu pun bisa menimpa kita di zaman ini. Bahwa sangat mudah bagi Allah swt untuk mengazab manusia-manusia lalim dan durjana dalam hitungan detik. Andaikan di muka bumi ini tak ada lagi hamba-hamba-NYa yang bermunajat di tengah malam menghiba ampunan-Nya, mungkin.
Na'udzubillahi min dzalik..
Selasa, 26 Januari 2016
"Partisipasi"
Oleh
(Salim A Fillah)
IJINKAN aku bicara tentang makna kecil partisipasi kita. Mungkin kau adalah peserta atau juga bahkan adalah pengisi, ataupun sekedar orang yang pernah melihat dan menemui fenomena seperti ini, di zaman ini:
“… Ketika beliau keluar tiba-tiba beliau dapati para sahabat duduk dalam halaqoh (lingkaran). Beliau bertanya, “Apakah yang mendorong kalian duduk seperti ini?” Mereka menjawab, “Kami duduk berdzikir dan memuji Alloh atas hidayah yang Alloh berikan sehingga kami memeluk Islam.”
Maka Rosululloh bertanya, “Demi Alloh, kalian tidak duduk melainkan untuk itu?” Mereka menjawab, “Demi Alloh, kami tidak duduk kecuali untuk itu.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya saya bertanya bukan karena ragu-ragu, tetapi Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwa Alloh membanggakan kalian di depan para malaikat.” (HR. Muslim, dari Mu’awiyah)
Di tempat inilah disambung keteladanan sejarah. Di forum seperti yang dicontohkan para sahabat, para ghuroba’(orang-orang terasing) masa kini mewujudkan sabda Nabi bahwa mu’min itu cermin bagi Mu’min yang lain. Mereka saling bercermin diri, tentang perkembangan tilawah al-Qur’an dan hafalannya, tentang sholat malamnya, dan tentang puasa sunnahnya. Semangatnya tergugah mendengar yang lain menyalip amal-amalnya. Ia jadi malu mendapati dirinya tak bisa mengatur waktu.
Mereka saling menyebutkan kabar gembira sampai semua merasa bahagia mendengar salah seorang sahabatnya mendapat nilai A. Mereka saling berbagi agar masalah tak terasa sendiri dihadapi. Ada yang bercerita tentang amanah-amanah da’wahnya yang katanya semakin mengasyikkan, atau semakin menantang. Yang berkeluasan rizqi membawakan pisang goreng yang tadi pagi dibuat ibunya, atau mangga yang dipetik dari halaman rumahnya.
Sesekali mereka ganti setting forumnya, dengan menginap agar bisa lebih panjang bercengkerama. Lalu mereka dirikan Qiyamullail bersama. Pernah juga mereka lakukan wisata. Mereka bertemu di tempat rekreasi yang sepi, mengingat Ilahi dan mengagumi kebesaran ciptaan-Nya. Mereka berdiskusi disaksikan air terjun, punggung bukit bercemara, hutan berlembah yang menawan, atau pasir pantai memutih diterpa gelombang.
Tentu saja yang jauh lebih utama, mereka mengingat Alloh dalam sebuah kumpulan, agar Alloh mengingat mereka dalam kumpulan yang lebih baik. Mereka baca kitabulloh, mereka kupas isinya, mereka dapati bahwa al-Qur’an menyuruh mereka bersaudara dalam cinta dan mentauhidkan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak ada tekad ketika bubar dan saling bersalaman mendoakan, selain agar yang mereka bahas menjadi amal kenyataan.
“Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah dari rumah-rumah Alloh, mereka membaca kitabulloh, dan mempelaiarinya di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rohmat meliputi majelisnya, Malaikat menaungi mereka, dan Alloh menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim, dari Abu Huroiroh)
Di sana bisa kita jumpai wajah saudara yang jenaka, yang pendiam, dan yang tampak lelah karena banyak amanah. Tapi Subhanalloh… Ini adalah cahaya yang bergetar di antara mereka. Ia bergetar untuk menjadi refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri dan perbaikan ummat dalam medium atmosfer cinta. Saya tak ragu lagi menyebut forum yang terkenal dengan kata liqo’at (pertemuan) ini, sebagai Getar Cahaya di Atmosfer Cinta.
Bahkan ketika suatu waktu Anda yang belum pernah mengikuti forum ini tidak sengaja menemui mereka sedang ada di Masjid Kampus, Musholla Sekolah, rumah seorang Ustadz atau markaz da’wah, lalu Anda bergabung dengan niat serta keperluan yang lain atau mungkin karena iseng saja, Anda takkan pernah kecewa. Percayalah, Anda tak akan pernah kecewa.
Seorang malaikat berkata, “Robbi, di majelis itu ada orang yang bukan dari golongan mereka, hanya bertepatan ada keperluan maka datang ke majelis itu.” Alloh berfirman, “Mereka adalah ahli majelis yang tiada akan kecewa siapa pun yang duduk membersamainya!” (Muttafaq ‘Alaih, dari Abu Huroiroh)
Maka demi Alloh, apa yang Anda tunggu? Perkenalkan diri Anda pada mereka sejelas-jela
snya. Katakan, Anda ingin bergabung dengan pertemuan pekanan mereka. Kalau majelis itu sudah terlalu sesak, lalu efektifitasnya drop, pengasuh majelis itu pasti akan mencarikan sebuah majelis lain yang indah untuk Anda. Kalau di sekolah Anda dan di kampus Anda ada kegiatan bernama Mentoring, Asistensi Agama Islam atau nama lainnya, barangkali itu pintu lain bagi Anda memasuki Getar Cahaya di Atmosfer Cinta ini. Setelah itu, bisa jadi Alloh akan menguji Anda. mungkin dengan perasaan Anda bahwa majelis ini tidak seperti yang Anda harapkan. Maka bersabarlah.
“Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.” (Qs. Alam Nasyroh [94]: 5-6)
***
Beberapa ikhwah mengeluh mendapati beberapa saudaranya telah berubah ketika pindah ke lain kota. Ada gambaran, betapa sulitnya menjaga istiqomah ketika jauh dari lingkungan iman semula. Apa yang diceritakan Hanzholah ibn ar-Robi’, bisa menjadi ‘ibroh bahwa pertemuan sesaat demi sesaat dalam majelis ini adalah sarana penjaga konsistensi dan sikap istiqomah -yang kadang-kadang tanpa perlu kita sadari-.
Ketika Abu Bakr berkunjung dan menanyakan kabarnya, Hanzholah pun menjawab, “Hanzholah telah menjadi munafiq!”. Terperanjat Abu Bakr, lalu ia berkata, “Subhanalloh, apa yang engkau ucapkan?” Kata Hanzholah, “Kita sering bersama Rosululloh, beliau mengingatkan kita tentang surga dan neraka seolah-olah kita melihatnya dengan mata kepala. Namun ketika kita keluar dari sisi Rosululloh, bercengkerama dengan anak-anak serta sibuk dengan pekerjaan, kita pun banyak melupakannya.”
“Demi Alloh! Sesungguhnya kami juga merasakan hal seperti ini!”, sahut Abu Bakr membenarkan. Tak ada curhat yang lebih indah daripada curhat para sahabat. Ya, mereka pun kembali pada Murobbi-nya, Rosululloh Mushthofa. Dan beliau pun menenteramkan hati para binaannya.
“… Demi Dzat yang jiwaku ditangan-Nya. Seandainya kalian selalu dalam keadaan sebagaimana ketika kalian ada di sisiku dan dalam berdzikir, niscaya Malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat-tempat tidur, dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi sesaat demi sesaat, wahai Hanzholah! Sesaat demi sesaat, wahai Hanzhalah. Sesaat demi sesaat!”(HR. Muslim dalam Shohihnya, dari Hanzholah)
Akal sehat para peserta liqo’at menuntun mereka untuk menghayati bahwa majelis ini adalah bagian paling asasi dari hidup mereka. Ada waktu yang harus diprioritaskan untuknya lebih dari segala aktivitas lainnya. Kaidahnya jelas: kalau ia tak bersama mereka, ia takkan bersama siapa-siapa; kalau mereka tak bersama dengannya, mereka pasti bersama dengan orang selain dia.
Kadang kita tak merasakan nikmatnya majelis kebersamaan ini. Padahal, orang lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk saat kita berhenti menghadirinya untuk suatu waktu yang cukup lama. Memang, ia hanya sepekan sekali. Tetapi bagaimanapun kita tahu, majelis ini adalah majelis ‘ilmu dan dzikir yang tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. Ketika mereka menutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing-masing, lingkaran itu hanya melebar. Ia melebar seluas aktivitas mereka.
Tentu. Untuk berpartisipasi bagi ummat dalam jangkauannya, mendistribusikan kesholihan yang terasa manis direguknya
#back to melingkar
Minggu, 24 Januari 2016
SAR Masjid, Fenomena Baru Aktifitas Remaja
Sekelompok remaja dan pemuda itu dengan sigap bergerak membersihkan masjid Al Ghofar di Dusun Sanggrahan, Desa Balerejo, Kecamatan Kledung. Bersama masyarakat dan remaja dusun tersebut mereka membersihkan tempat yang mulia tersebut (minggu/24/1/2016).
Berseragam orange seperti Seragam SAR pada umumnya, tapi ketika ada kata masjid dibelakangnya menjadi sesuatu yang berbeda siapa mereka?. Tak salah mereka adalah remaja dan pemuda masjid yang tergabung dalam Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Kabupaten Temanggung menyediakan waktu untuk membersihkan masjid.
"Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dari pelaksanaan hadits Nabi, bahwa barang siapa yang membersihkan masjid maka Allah akan membuatkan bangunan disurga" kata Abdurahman Wachid ketua JPRMI Kabupaten Temanggung.
Selanjutnya dia menjelaskan bahwa kegiatan seperti ini akan menjadi kegiatan rutin diadakan dengan tempat yang berbeda beda. "Siapa pun bisa bergabung dengan kami, untuk bergabung dalam amal shaleh ini" tambahnya.
Posted via Blogaway
Sabtu, 16 Januari 2016
Teladan Umat: Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Qaradhawi
Salah satu keteladanan yang banyak dipraktikkan oleh para ulama salaf adalah sikap saling menghargai dan menghormati saudara-saudaranya yang berbeda pendapat dengan mereka. Sikap seperti ini juga telah ditunjukkan oleh dua ulama besar di zaman kita ini: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah (w. 1420 H) dan Syaikh Yusuf bin Abdillah Al-Qaradhawi hafizhahullah.
Syaikh Al-Qaradhawi berkata: “Syaikh Bin Baz rahimahullah pernah mengirim surat kepada saya lebih dari seperempat abad yang lalu. Dalam surat tersebut, beliau memberitahukan kepada saya bahwa Departemen Penerangan memberikan kitab saya—Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam—kepada beliau; Apakah kitab tersebut boleh masuk ke wilayah kerajaan Saudi Arabia atau tidak? Beliau menginginkan agar jangan sampai para pembaca di Saudi dilarang membaca kitab-kitab saya yang menurut beliau, ‘mempunyai nilai tersendiri di dunia Islam’. Beliau mengabarkan, bahwa para Syaikh di Saudi mempunyai delapan catatan atas kitab saya tersebut, di mana beliau menyebutkan semuanya di dalam suratnya. Beliau meminta kepada saya agar mau menelaah kembali isi kitab saya tersebut. Sebab, ijtihad manusia itu bisa saja berubah di lain waktu.
Ketika itu saya membalas Syaikh Bin Baz dengan sebuah surat sederhana. Saya katakana di dalamnya, ‘Sesungguhnya ulama umat yang paling saya cintai dimana saya enggan menyelisihinya dalam berpendapat, dia adalah Syaikh Bin Baz. Akan tetapi sunnatullah telah berlaku bahwasanya tidak pernah ada para ulama yang sependapat dalam semua masalah. Para sahabat saling berbeda pendapat satu sama lain. Dan para imam juga berbeda pendapat satu sama lain, namun demikian, hal ini sedikit pun tidak membawa mudharat pada mereka. Mereka memang berselisih pendapat, namun hati mereka tidak berselisih. Dan sebagian dari delapan masalah ini, para ulama sejak dulu memang telah berselisih pendapat di dalamnya…”
Pada akhir surat Syaikh Al-Qaradhawi menyampaikan kepada Syaikh Bin Baz, “Saya berharap agar jangan sampai perbedaan pendapat yang terjadi antara saya dengan para syaikh (di Saudi) dalam sebagian masalah ini menjadi sebab dilarangnya buku saya masuk ke Saudi.”
Syaikh Bin Baz pun kemudian mengabulkan harapan Syaikh Al-Qaradhawi tersebut. Beliau rahimahullah mengizinkan Kitab Al-Halal wa Al-Haram fi Al-Islam dan kitab lainnya masuk ke Saudi.
Sumber: Fi Wada’ Al-A’lam, Yusuf Al-Qaradhawi, hal. 62-63, Penerbit Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir, Beirut, Cetakan pertama, 2003 M – 1424 H, seperti dikutip oleh Abduh Zulfidar Akaha dalam buku Belajar dari Akhlaq Ustadz Salafi, hal xxv-xxvi, Penerbit Al-Kautsar, Jakarta, Cetakan Pertama, Februari 2008, dengan sedikit perubahan.
Al-intima.com
Kamis, 28 Agustus 2014
KISAH MUJAHID PENGHAFAL QURAN YANG MENINGGAL DALAM KONDISI MURTAD
Kisah pilu seorang tabiin yg hafidz qur'an namun murtad pd saat berjihad. Hny krn asmara...
Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas tubuh demi tubuh pasukan romawi. Ia adalah seorang tabiin (270H) yg hafal qur'an. Namanya adalah sebaik-baik nama, Abdullah bin Abdurrahim. Keimanannya tak diragukan. Adakah bandingannya didunia ini seorang mujahid nan hafal quran. Namun lacur akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang hafalannya melainkan 2 ayat sahaja yg tersisa. Yaitu surah al hijr ayat 2-3, rubamaa yawaddulladziina kafaru lau kaanu muslimiin, dzarhum ya`kulu wayatamatta'u wayulhihimul amal-fasaw faya'lamuun. (Org2 kafir itu diakhirat nnt sering menginginkan andai didunia dulu mrk muslim. Biarkanlah mrk mkn dn senang2, dilalaikan oleh angan2 kosong belaka, kelak mrk akan tahu akibatnya). Seolah ayat ini adalah kutukan sekaligus peringatan اَللّه yg terakhir namun tak digubrisnya. Apakah penyebabnya? Penyebabnya adalah wanita. Inilah kisahnya;
Pedangnya masih berkilat2 memantul sinar mentari. Masih segar berlumur merahnya darah org romawi. Ia hantarkan org romawi itu ke neraka dg pedangnya. Tak disangka nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang wanita romawi, tdk dg pedang melainkan dg asmara. Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi. Tiba2 mata Abdullah tertuju kpd seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su'ul khotimah. Dia lupa bahwa maksiat dan pandangan haram adalah gerbang kekufuran. Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kpd wanita itu. Isinya kurang lebih: "Adinda, bgm caranya agar aku bs smp ke pangkuanmu?" Perempuan itu mjwb: "Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jd milikmu."
Syahwat telah memenuhi relung hati Abdullah sampai2 ia mjd lupa beriman, tuli peringatan dan buta alquran. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.
Khotamallaahu 'ala qulubihim wa'ala sam'ihim wa'ala abshorihim ghisyawah... Astaghfirullah, ma'adzallah. Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra. Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam. Ia rela murtad. Menikahlah dia didalam benteng. Kaum muslimin yg menyaksikan ini sngt terguncang. Bgm mungkin? How come? Bgm bisa seorg hafidz yg hatinya dipenuhi alqur'an meninggalkan اَللّه dn mjd hamba salib? Ketika dibujuk utk taubat ia tak bs. Dikatakannya bhw ia telah lupakan qur'an kecuali 2 ayat diatas sj dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan spt itulah dia sampai wafatnya.
Ya اَللّه seorang hafidz nan mujahid sahaja bs Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad, apatah lg hamba yg bnyk cacat ini. Tak punya amal andalan.
Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agr اَللّه lindungi kt dr fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dr ketetapan yg buruk diakhir hayat.
Ma taraktu ba'di fitnatan adhorro 'ala ar rijaal min nisaa...
"Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yg maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita" (muttafaq 'alaih).
Disarikan dr tulisan DR. Hamid Ath Thahir dlm buku Dibawah Kilatan Pedang (101 kisah heroik mujahidin) COPAST
Posted via Blogaway
Rabu, 07 Mei 2014
Nasihat Bijak Dari Salah Satu Orang Terkaya Dunia
Warren Buffett adalah orang terkaya no. 3 di dunia saat ini yang di kenal sebagai seorang investor dan pakar saham. Berikut nasehat Warren Buffet tentang uang & kekayaan .... "Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yang kau miliki, serta ingatlah .... Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tetapi lakukan apa yang baik saja. Jangan memakai merk, pakailah yang benar dan nyaman untukmu. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting. Dengan uang ... Anda bisa membeli rumah, tetapi tidak bisa membeli tempat tinggal. Anda bisa membeli jam, tetapi tidak bisa membeli waktu. Anda bisa membeli tempat tidur, tetapi tidak bisa membeli tidur pulas Dengan uang .. Anda bisa membeli buku, tetapi tidak bisa membeli pengetahuan dan kebijaksanaan Anda bisa mendapatkan kedudukan, tetapi tidak bisa membeli kehormatan. Dengan uang ... Anda bisa membeli darah, tetapi tidak bisa membeli kehidupan. Maka temukan kebahagiaan didalam diri Anda. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain. Orang yang berbahagia bukanlah orang yang hebat dalam segala hal, melainkan orang yang bisa menemukan hal sederhana dalam hidupnya dan senantiasa mengucap syukur Pasti Bermanfaat !
Sumber:http://m.kompasiana.com/post/read/443628/1/nasihat-bijak-dari-salah-satu-orang-terkaya-dunia.html
Posted via Blogaway
Rabu, 26 Maret 2014
Sabtu, 22 Februari 2014
Dampak Perang Ideologi Terhadap Umat Islam
Sebenarnya perang ideologi atau ghozwul fikri sudah ada sejak jaman dahulu. Saat ini perang Ideologi menjadi langkah awal penguasaan sebuah negeri sebelum jenis jenis perang yang lain.
Perang Ideologi atau Ghozwul Fikri mempunyai dampak kerusakan mental yang kadang kadang tidak disadari. Dampak dampak Perang Ideologi bagi umat Islam ini antara lain:
1. Melemahkan dan membunuh spirit perjuangan umat.
2. Memutuskan hubungan dan menghancurkan kepercayaan antar sesama umat Islam
3. Memporak porandakan barisan dan mengguncangkan bangunan kesatuan umat.
4. Menghancurkan kepercayaan dan ketaatan umat dengan pemimpinnya.
5. Menumbuhkan frustasi , patah semangat serta menghilangkan optimisme perjuangan.
Sebagian dari dampak perang ideologi mungkin dapat kita lihat disekitar kita. Atau ada pada diri kita?
Posted via Blogaway
Selasa, 18 Februari 2014
CINTA TAPI BEDA AKIDAH
Aduh, tema beginian bisa mancing orang untuk penasaran. Bisa juga mancing amarah orang yang nggak suka diusik hawa nafsunya (maklum, pengen beda katanya—jadi malah milih yang beda agama sebagai pacarnya). Tetapi, bisa juga tema ini menjadi bahan untuk dakwah. Yup, kalo gitu emang tergantung persepsi juga ya. Betul banget. Cara seseorang memandang suatu masalah juga berbeda-beda. Itu bisa terjadi karena beda pengetahuan, beda latar belakang sosial, beda latar belakang pendidikan dan juga latar belakang pemahaman agamanya.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Tema ini diangkat karena banyak kasus kaum muslimah—khususnya yang memang tergoda bujuk rayu pemuda nonmuslim atas dasar yang mereka sebut cinta, padahal sejatinya nafsu belaka. Kalo ngomongin soal ini, jadi inget kusutnya hubungan Asmirandah ama Jonas. Simpang siur beritanya, meski pada akhirnya mengarah pada satu fakta bahwa Asmirandah tergoda ama Jonas sehingga menjalin hubungan asmara. Bagi para orang tua ini jelas harus diwaspadai. Kasus serupa ini sebenarnya cukup banyak di kalangan masyarakat biasa.
Mengaku atas dasar cinta, akhirnya mereka berani untuk mencampakkan aturan agama. Nasihat orang tua tak didengar, apalagi nasihat dari orang lain. Ini jelas membahayakan. Saya pernah menyaksikan sendiri ada seseorang yang saya kenal menikahkan anaknya yang perempuan dengan seorang pemuda Kristen. Pihak keluarga orang tersebut tentu saja mempertanyakan keputusan kontroversial itu. Namun, kabarnya si cowok bersedia masuk Islam sebelum menikah. Singkat kata, dilangsungkanlah pernikahan. Bahkan saya diundang dan ikut menghadiri pernikahan tersebut.
Setelah beberapa bulan tak bertemu, saya mendapatkan kabar bahwa pernikahan tersebut akhirnya bubar. Pasalnya, kenalan saya itu marah besar karena ternyata menantunya itu ingkar janji. Setelah nikah malah nggak mau shalat, ngajak istrinya untuk pindah agama segala. Waduh. Setelah mendengar kabar itu saya tak pernah bertemu lagi. Entah apa yang kini terjadi. Cukuplah itu menjadi pelajaran yang tak boleh berulang.
Pacaran sebagai modusnya
Suatu hari, redaksi gaulislam menerima SMS dari pembaca yang bertanya tentang bolehkah pacaran beda agama? Tentu saja kami, kru gaulislam menjawabnya bahwa pacaran sesama muslim saja dilarang, apalagi dengan yang beda agama. Pacaran itu aktivitas maksiat. Hubungan gelap tanpa ikatan pernikahan. Jelas, itu melanggar syariat. Nah, apalagi kemudian berisiko jika melakukan pacarannya dengan nonmuslim. Para pelakunya menyangka bahwa itu hanya persoalan cinta. Wedew, cinta jadi di atas segalanya. Bahkan mengalahkan syariat. Sobat, itu bukan cinta, tetapi hawa nafsu buruk karena sudah terjerat bujuk rayu setan. Naudzubillah.
Sobat gaulislam, pacaran memang sangat mudah dijadikan modus untuk menjauhkan remaja muslim dari akidah dan syariat Islam. Mereka dicekoki bahwa cinta di atas segalanya. Orang yang sedang jatuh cinta dikompori dan digelapkan matanya agar yang ada di pikirannya adalah kebahagiaan dan kesenangan semata. Sehingga ketika ada orang yang mengusik atau memberi nasihat agar kembali ke jalan yang benar dianggapnya sebagai bentuk turut campur urusan orang lain.
Mengapa pacaran yang dijadikan modus paling gampang untuk menjauhkan remaja muslim? Begini. Masa remaja itu kan masa puber, ditandai dengan menyukai lawan jenis. Tumbuh perasaan suka dan senang jika bertemu atau berkomunikasi dengan lawan jenis. Ketika sarana untuk bertemu dan berkomunikasi tersedia, maka bukan tak mungkin mereka akan memanfaatkannya dan menjalin kisah asmara. Jika sudah kecanduan pengen berinteraksi dengan lawan jenis, yakni melalui aktivitas pacaran, maka segala cara dilakukan. Apalagi kini ada jejaring sosial semacam Facebook dan Twitter, maka tambah gampang untuk menjalin hubungan. Bahkan di situs jejaring buatan Mark Zuckerberg ini status seseorang yang berhubungan dengan lawan jenisnya bisa dipublis (jika yang punya akun menginginkannya). Akibatnya, tentu teman-teman dari kedua belah pihak jadi mengetahui hubungan mereka.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Membahas tema cinta dan pergaulan remaja sudah menjadi salah satu ciri gaulislam, maka jika kamu masih penasaran bagaimana penjelasan detil tentang dilarangnya pacaran dalam Islam, silakan bisa searching artikel-artikelnya di website gaulislam.com (kunjungi dan temukan jawabannya!). Tetapi intinya, bagi seorang muslim pacaran itu haram hukumnya. Catet ya!
Beda akidah, beda tujuan akhir
Allah Ta’ala berfirman tentang larangan menikahi orang-orang musyrik, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS al-Baqarah [2]: 221)
Tuh, ini perlu kamu ketahui lho. Awalnya sih pacaran, tetapi setelah kamu lengket dengannya, malah diajak nikah. Apalagi bagi para remaja muslimah yang dipacari cowok nonmuslim, terus karena pacarannya kebablasan berbuah kehamilan, udah gitu kan pilihannya makin sulit dan malah mau saja dinikahi oleh cowok beda akidahnya itu. Musibah besar, Bro en Sis!
Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka (wanita mukmin) kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka (wanita mukmin) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (QS al-Mumtahanah [60]: 10)
Saya kutipkan dari website muslim.or.id tentang pendapat para ulama seputar penjelasan ayat ini. Menurut Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Para ulama kaum muslimin telah sepakat tidak bolehnya pria musyrik (non muslim) menikahi (menyetubuhi) wanita muslimah apa pun alasannya. Karena hal ini sama saja merendahkan martabat Islam.” (Tafsir al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad al-Anshori al-Qurthubi, Mawqi’ Ya’sub, 3/72)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ayat ini (surat al-Mumtahanah ayat 10) menunjukkan haramnya wanita muslimah menikah dengan laki-laki musyrik (non muslim)” (Tafsir al-Quran al-‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 13/521)
Imam asy-Syaukani rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Ayat ini (surat al-Mumtahanah ayat 10) merupakan dalil bahwa wanita muslimah tidaklah halal bagi orang kafir (non muslim). Keislaman wanita tersebut mengharuskan ia untuk berpisah dari suaminya dan tidak hanya berpindah tempat (hijrah)” (Fathul Qodir, Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani, Mawqi’ at-Tafasir, 7/207)
Islam memuliakan kita
Ada nasihat dari Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang perlu kita renungkan. Menjelang wafatnya, beliau menasihati sahabat-sahabatnya, “Sesungguhnya kita telah diciptakan, kita ini awalnya tidak berarti apa-apa sampai akhirnya Allah memuliakan kita dengan Islam. Maka jika kita pergi untuk mencari kemuliaan pada selain-Nya, maka niscaya Allah akan menghinakan kita.”
Sobat muda muslim, Umar bin Khattab juga selalu merasa bimbang terhadap dirinya sendiri, “Apa yang hendak kau katakana pada Rabbmu besok di akhirat?” beliau senantiasa melantunkan syair untuk menasihati dirinya, “bukankah kamu adalah seorang yang rendah, lalu Allah mengangkatmu. Bukankah kamu dahulu adalah orang yang sesat, lalu Allah memberi petunjuk kepadamu. Bukankah kamu dahulu adalah orang yang hina, lalu Allah memuliakanmu. Lalu apa yang hendak kau lakukan kepada Rabbmu dihari esok (akhirat)?”
Subhanallah. Kita mulia dengan Islam. Jadi, heran aja kalo sampe ada kaum muslimin yang masih mencari kemuliaan selain Islam. Nggak bakalan ada. Yakinlah. Cuma Islam yang membuat kita mulia. Maka, buat apa cari cowok atau cewek nonmuslim untuk dijadikan pacar. Sudahlah pacarannya dilarang, eh malah pacaran sama orang selain Islam pula. Waduh, itu sih asli nyari penyakit. Hindari ya!
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Meski kamu berbusa-busa bilang bahwa apa yang kamu lakukan adalah atas dasar cinta walau harus menyukai lawan jenis yang nonmuslim. Bohong! Itu bukan cinta, tetapi gejala orang yang kena jebakan setan atas nama cinta. Itu sebenaranya hawa nafsu buruk, tetapi disulap jadi indah dan atas nama cinta. Setan emang pinter bikin jebakan agar kamu terjerumus dalam pergaulan yang nista.
Jadi, jangan nekat melanggar syariat ya. Sebaliknya, buanglah pacar pada tempatnya. Apalagi pacarmu nonmuslim. Amit-amit dah kalo kudu ngorbanin kekalnya akhirat dengan secuil kenikmatan sesaat bin fana duniawi. Rugi banget kalo ninggalin akidah dan syariat Islam, lalu mengejar kenikmatan semu di akidah lain.
So, mulai sekarang perbaiki imanmu, kuatkan takwamu, semangat beribadah, dan tetap beramal shalih. Mulai sekarang jauhi pacaran, apalagi pacaran dengan nonmuslim. Why? Itu bikin dosa dan membahayakan akidahmu [solihin | Twitter @osolihin]
Sumber: http://www.gaulislam.com/cinta-tapi-beda-akidah
Posted via Blogaway
Rabu, 12 Februari 2014
Ke Masjid, Raih Apa yang Engkau Niatkan!
Artinya: “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabada,”Barangsiapa mendatangi masjid karena suatu maka itu adalah bagiannya”. (Riwayat Abu Dawud, dihasankan oleh Al Hafidz As Suyuthi)
Dalam hal ini Al Allamah Al Munawi menyatakan bahwa barangsiapa mendatangi masjid, maka ia memperoleh sesuai dengan apa yang niatkan. Barangsiapa datang ke masjid untuk memperoleh pahala maka ia mendapatkannya, barangsiapa datang untuk mengunjungi rumah Allah maka ia akan memperolehnya serta barangsiapa mengunjunginya karena keduanya serta untuk menuntut ilmu maka ia akan mendapatkannya sesuai dengan niatnya. Hal ini termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam,”…bagi setiap orang apa yang ia telah niatkan.” (Faidh Al Qadir, 6/22)
sumber: http://www.hidayatullah.com/read/2014/01/31/15803/ke-masjid-raih-apa-yang-engkau-niatkan.html
Warisan Terbaik....!!
sumber: http://kangmustofa.blogspot.com/2013/04/warisan-terbaik_22.html
